Rabu, 22 Mei 2013

Latar belakang

Program Wirausaha Mandiri merupakan salah satu kontribusi Bank Mandiri bagi pertumbuhan ekonomi bangsa Indonesia, yang diwujudkan secara berkesinambungan dan fokus pada generasi muda yang merupakan generasi penerus bangsa. Pelaksanaan program ini dilatarbelakangi dari keprihatinan Bank Mandiri terhadap besarnya jumlah pengangguran di Indonesia, terutama dari kalangan generasi muda. Jumlah pengangguran terbuka di Indonesia pada 2007 mencapai 10,5 juta jiwa, lalu menurun menjadi 9,4 juta jiwa (2008) dan 9,2 juta jiwa (2009).

Banyaknya jumlah pengangguran ini tak lepas dari paradigma berpikir (mindset) generasi muda yang rata-rata ingin menjadi pegawai, sementara ketersediaan lapangan kerja di sektor formal sangat terbatas. Hal ini sangat disayangkan, mengingat kemampuan dan kreativitas generasi muda saat ini sangat tinggi dan memiliki potensi untuk dikembangkan.

Menurut David McClelland, untuk menjadi negara maju dan makmur, minimal jumlah wirausaha yang dibutuhkan adalah 2% dari total jumlah penduduk. Amerika Serikat, tahun 2007 memiliki 11,5% entrepreneur, Singapura pada tahun 2005 memiliki 7,2 % entrepreneur, sedangkan Indonesia hanya memiliki 0,18% entrepreneur

Melalui pelaksanaan program Wirausaha Mandiri yang dimulai sejak tahun 2007, kami ingin mengajak generasi muda menjadi generasi yang mandiri, sehingga bukan hanya menjadi generasi pencari kerja namun mampu menjadi generasi pencipta lapangan pekerjaan. Selain itu juga mewujudkan peranan Bank Mandiri dalam menggerakkan sektor UMKM sebagai pilar dan penggerak perekonomian bangsa.

Kepedulian Yang Mampu Mengubah Masyarakat

Indonesia saat ini memasuki masa yang sangat menarik. Bagaimana tidak? Negara berpenduduk terbesar keempat di dunia ini memiliki pendapatan perkapita mendekati USD 4000. Angka tersebut diperkirakan akan meningkat dua kali lipat dalam 4-5 tahun mendatang. Namun pada sisi lain, perusahaan konsultansi global, McKinsey mengeluarkan kajian bahwa Indonesia juga dihadapkan pada tantangan peningkatan produktivitas (diperkirakan 60%), pembangunan yang lebih inklusif dengan pemberdayaan masyarakat serta pengembangan sektor energi dan bahan pangan. 

Untuk menghadapi ketiga tersebut, sangat dibutuhkan pengembangan pendidikan, kemampuan masyarakat untuk dapat berpartisipasi aktif dalam kegiatan ekonomi serta pengembangan sektor energi dan pangan. Mengembangkan ketiga hal tersebut dibutuhkan energi yang besar dan peran aktif berbagai pihak, termasuk korporasi. Walaupun seringkali korporasi melihat ketiga hal tersebut sebagai sesuatu yang berada di luar kepentingannya. Namun, tidak dapat dipungkiri banyak sekali contoh-contoh nyata yang justru menunjukkan bahwa korporasi yang berhasil tumbuh secara sustainable, adalah korporasi yang dapat mengintegrasikan atau menjadi bagian dari solusi tantangan pembangunan secara strategis. 

Bank Mandiri, sebagai salah satu perusahaan milik negara, terus berkomitmen untuk menjadi bagian dari solusi tersebut, dengan berperan aktif memberikan kontribusi signifikan bagi perbaikan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia. 

Corporate Social Responsibility merupakan salah satu program yang dapat mendorong perusahaan-perusahaan negara lebih berkontribusi bagi masyarakat. Pada ranah BUMN, kegiatan CSR lebih dikenal dengan Program Kemitraan dan Bina Lingkungan atau PKBL. 

Program CSR/PKBL sudah dilaksanakan sejak awal Bank Mandiri beroperasi. Dalam perkembangannya, program PKBL yang telah dilakukan tetap perlu penajaman untuk lebih mengefektifkan dampak program bagi masyarakat maupun Bank Mandiri. 

Upaya penajaman pun dilakukan. Mandiri memperbarui visi Program Kemitraan dan Bina Lingkungan menjadi sejalan dengan visi perseroan. Yaitu menjadi lembaga keuangan Indonesia yang paling dikagumi dan selalu progresif. Sehingga, program yang dijalankan dapat bersinergi dengan bisnis Bank Mandiri. 

Bank Mandiri juga mengoptimalkan peran unit kerja yang berada di daerah atau wilayah melalui program PKBL. Tujuan dari semua itu adalah untuk memberikan dampak bisnis bagi Bank Mandiri, terutama dalam upaya pencapaian fokus bisnis pada segmen high yield assets, retail payments dan wholesale transaction. 

Saat ini, implementasi program PKBL Bank Mandiri dilaksanakan melalui tiga pilar utama, yaitu pertama, pembentukan komunitas mandiri melalui pelaksanaan program Mandiri Bersama Mandiri yang bertujuan untuk membina kelompok masyarakat/komunitas secara terintegrasi dalam hal kapasitas, infrastruktur, kapabilitas dan akses. 

Kedua, pencapaian kemandirian edukasi dan kewirausahaan melalui pelaksanaan program Wirausaha Muda Mandiri (WMM), Mandiri Young Technopreneur (MYT) dan Mandiri Peduli Pendidikan yang bertujuan menciptakan pemimpin masa depan yang siap dengan persaingan global. 

Yang ketiga adalah Penyediaan fasilitas ramah lingkungan melalui pelaksanaan enam program utama yaitu penyediaan sarana penunjang pengadaan air bersih, pengembangan energi terbarukan, penanaman pohon pada lahan kritis, penanaman dan pemeliharaan tumbuhan bakau, pengadaan taman kota dan pengembangan eco wisata.

Khusus untuk kemandirian edukasi dan kewirausahaan, Mandiri memiliki program unggulan yang diyakini dapat menyiapkan generasi muda untuk mampu menghadapi persaingan global. Program yang dikenal luas oleh masyarakat itu bernama Wirausaha Muda Mandiri dan Mandiri Young Technopreneur.  

Program tersebut berawal dari keprihatinan Bank Mandiri melihat terbatasnya kemampuan industri dalam menyerap tenaga kerja, sehingga menyebabkan peningkatan jumlah pengangguran di Indonesia terutama dari kalangan usia produktif. 

Alasan lainnya adalah data Badan Pusat Statistik. Pada 2008, lembaga tersebut memaparkan bahwa jumlah wirausahawan di Indonesia diperkirakan hanya sekitar 0,24% dari jumlah penduduk usia kerja. Padahal, menurut pakar enterpreneurship David McClelland, untuk menjadi negara yang makmur, suatu negara harus memiliki minimum 2 persen entrepreneur dari total penduduknya. 

Alhasil, Program pengembangan kewirausahaan khususnya bagi generasi muda perlu digencarkan untuk melahirkan kesadaran dalam diri mereka agar menjadi job creator, tidak lagi job seeker. Seiring dengan proses transformasi Bank Mandiri. Program dimulai dengan melakukan pengenalan pentingnya mengubah pola pikir mahasiswa dari “pencari kerja” menjadi “pencipta lapangan kerja” ketika sudah selesai kuliah. 

Gerakan kewirausahaan di Indonesia yang makin gencar dikampanyekan oleh masyarakat yang peduli dan juga pemerintah, jelas dapat menciptakan sebuah aura positif yang mendorong dinamika berinvestasi di tengah masyarakat. Pemerintah perlu secara konsisten melakukan sosialisasi dan membuat kebijakan yang mendorong kewirausahaan di Perguruan Tinggi. Sebab, perguruan tinggi merupakan komunitas terdidik dan cerdas yang paling siap untuk didorong menjadi innovative entrepreneur. Keberadaan mereka di episentrum khazanah pengetahuan adalah sebuah peluang istimewa untuk bertumbuh menjadi innovative entrepreneur. 
 
Kewirausahaan menggerakan perekonomian karena efek pengganda (multiplier effect) yang diciptakannya. Seorang wirausaha akan membangun sebuah sistem usaha yang menggulirkan modal, menciptakan lapangan pekerjaan, menghasilkan produk yang akan diserap oleh pasar hingga terjadi akumulasi modal dan kemampuan yang membuat bisnis tersebut berkelanjutan. 

Indonesia membutuhkan generasi wirausaha muda sebagai kelompok penggerak ekonomi baru. Kewirausahaan akan menciptakan lapangan kerja, memacu produktifitas generasi muda dan membuka peluang-peluang baru dalam mewujudkan kesejahteraan. 

Persepsi lama bahwa wirausaha hanyalah untuk mereka yang tidak sekolah harus segera diubah. Wirausaha bukan profesi, tapi pola pikir; pola pikir yang jeli melihat peluang, selalu ingin berinovasi dan berani menempuh risiko. Konsep itulah yang digunakan Bank Mandiri. Penghargaan WMM dan MYT bukan hanya ajang pemberian hadiah. Lebih penting lagi, program ini merupakan pengakuan bahwa keberhasilan berwirausaha merupakan prestasi yang membanggakan bagi kaum muda, sejajar dengan prestasi-prestasi di bidang lain. 

Pada program WMM dan MYT, setelah mendapatkan pemahaman dasar mengenai kewirausahaan, para peserta program mulai menerapkannya dalam penyusunan suatu proposal bisnis yang akan dinilai oleh juri. Di sini para peserta akan belajar mengenai pentingnya “bankability” atau kelayakan mendapatkan fasilitas perbankan. Proses ini juga menjadi bagian dari upaya untuk mengembangkan financial inclution di Indonesia. Sehingga, masyarakat dari setiap lapisan yang dapat mengakses layanan perbankan dapat terus bertambah.

Kesimpulannya, program-program kemitraan dan bina lingkungan perlu memiliki dampak signifikan bagi masyarakat dalam jangka panjang dan berkelanjutan. Tidak hanya sekedar memberi sumbangan namun harus juga secara masif mengubah pola pikir masyarakat agar menjadi lebih produktif sehingga mampu berperan aktif dalam mendorong pertumbuhan perekonomian Tanah Air. Kita juga perlu meyakini bahwa masa depan ekonomi Indonesia yang cerah, ada di tangan generasi wirausaha muda!  

Modal Ratusan Ribu, Kini Tembus Pasar Dunia

Kiprah Iwa Sumanto,30 tahun, dalam merintis bisnis patut diapresiasi. Pemuda kelahiran 21 Januari 1981 ini adalah Finalis Nasional Wirausaha Muda Mandiri yang telah sukses mengembangkan usaha produksi stick drum yang kini telah menembus pasar dunia.

Keberhasilan Iwa Sumanto diraih melalui proses panjang. Sebelum menggeluti usaha yang kini diberi nama Solobeat Drumstick Production, sejak kecil memang telah bersinggungan dengan kerajinan kayu. Selain desa tempatnya tinggal dikenal sebagai sentra usaha kerajinan kayu, orang tuanya juga menggeluti bidang itu sebagai mata pencaharian. “Kerajinan kayu yang dibuat orang tua saya antara lain sofa dan kabinet alumunium,” kata Iwa Sumanto kepada SINDO, belum lama ini.

Namun usaha orang tuanya terguncang saat krisis ekonomi melanda Indonesia pada 1997. Sehingga ketika lulus SMA, Iwa tidak bisa langsung kuliah karena keterbatasan biaya. Keterpurukan yang sempat dialami orang tua ternyata memicu kreativitasnya. Pada 2005, anak keempat dari lima bersaudara ini mulai merintis usaha stick drum. Usaha yang berkaitan dengan perlengkapan alat musik jenis pukul itu terinspirasi karena dirinya sempat berkecimpung di event organizer. Hanya bermodal Rp200 ribu, usaha stick drum itu pun dimulai. “Pada awalnya hanya menggunakan alat manual. Itu pun saya juga masih belajar bagaimana membuat stick drum,” bebernya. 

Kayu yang digunakan pada mulanya sisa kerajinan orang tuanya yang tidak terpakai dan sebagian lagi membeli. Selama beberapa bulan, sekitar 200 pasang stick drum berhasil dijual ke Semarang, Yogyakarta dan Solo. Stick buatannya ditawarkan ke studio musik dan toko-toko alat musik. “Studio musik menjadi salah satu pasar. Lantaran perlengkapan musik mereka biasanya disewakan, tentu stick drumnya akan cepat mengalami kerusakan,” kenangnya. Harga yang dipatok adalah Rp10 ribu untuk sepasang stick drum.

Ternyata semakin lama permintaan semakin banyak hingga membuat usahanya semakin berkembang. Pesanan pun semakin meluas dari sejumlah kota besar di Indonesia. Iwa lantas merekrut dua pemuda dari kampungnya untuk menjadi karyawan. Kualitas produk yang dihasilkan ternyata sampai ke telinga sejumlah drummer papan atas di Indonesia. Beberapa grup band ternama tertarik mencoba. Lantaran cocok, mereka kini rata-rata setiap bulan memesan 30 pasang stick drum buatan Solobeat Drumstick Production. “Mereka sering manggung, namun tidak mau sembarangan memakai stick drum. Jadi mereka membawa sendiri,” katanya. Tak mau kehilangan pelanggan spesial yang telah memiliki nama besar, pesanan tersebut tentu dibuat agak khusus dengan harga Rp20 ribu untuk sepasang stick drum.

Selain pasar dalam negeri, Iwa membidik pasar internasional. Promosi melalui internet membuahkan hasil. Tahun 2011 lalu, sejumlah grup band asal Amerika Serikat, Venezuela, Puerto Rico dan Kanada mulai memesan stick drum buatannya. Bahkan di Venezuela, Iwa sudah memiliki jaringan yang siap memasarkan produk usahanya. Harga yang dibanderol adalah USD13 untuk sepasang stick drum, termasuk ongkos kirim. “Mereka biasanya pesan satu lusin dan dibayar di muka,” ungkapnya. Pesanan khusus ini membuat pasar usahanya semakin luas. Berkat ketekunannya, Iwa kini sedikit banyak mulai menikmati hasil usahanya. 

Setiap bulan, omzet rata-rata saat ini telah mencapai Rp20 juta. Karyawannya juga bertambah menjadi lima orang. Kualitas produksi tetap dikontrol langsung agar tidak mengecewakan konsumen. 

Berkat usahanya,  pada 2008 Iwa bisa melanjutkan studinya ke Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta. Jurusan yang diambil adalah bahasa Inggris dengan alasan untuk menopang pengembangan usaha. Dia berharap bisa menimba ilmu sebanyak-banyaknya demi pengembangan bisnis ke depan. 

Kemampuan bisnis Iwa semakin terasah setelah dirinya menjadi Finalis Nasional Wirausaha Muda Mandiri 2010 dan bersaing dengan banyak peserta dari berbagai daerah. Beberapa finalis merupakan sosok wirausaha muda yang selama ini menjadi teladan baginya. “Saya merasa belum apa apa dibanding dengan mereka. Masih kalah jauh,” tandasnya. 

Pengalaman yang diperoleh dari ajang itu adalah mendapatkan pelatihan bisnis. Ilmu yang diperoleh akan segera diterapkan agar usahanya ke depan lebih tertata dan maju. Di samping itu, produk usahanya juga diikutkan dalam pameran di beberapa daerah, sehingga semakin dikenal luas masyarakat dan order menjadi bertambah banyak. “Sebelumnya saya melihat wirausaha muda sulit mendapatkan kesempatan untuk maju. Namun Bank Mandiri ternyata memberikan ruang bagi kami untuk mengembangkan diri. Pada tanggal 19-22 Januari 2012 nanti pun, saya bersama ratusan binaan Bank Mandiri lainnya diikutsertakan dalam Expo Wirausaha Muda Mandiri yang akan digelar di Assembly Hall Jakarta Convention Center,” katanya.

Dia berharap agar para pemuda memiliki optimisme yang tinggi dalam mengembangkan kewirausahaan. Tak kalah penting adalah semangat tidak pernah menyerah dan terus berusaha sekuat tenaga. “Jangan putus asa meski ada yang meremehkan,” ujarnya.

Mengawali Bisnis dengan Sesuatu yang Ada di Sekitar Kita

Beberapa orang mengawali bisnisnya dari sekedar hobi. Lama kelamaan menjadi sumber penghasilan. Hobi berkreasi membuat kue, Rosidah Widya Utami, kini sukses mengembangkan bisnis pembuatan donat dengan brand Donat Kampung Utami (DKU). Omzetnya dalam sebulan mencapai ratusan juta. Usaha ini, diawali dari bisnis skala kecil-kecilan di Jombang, Jawa Timur. Utami pertama kali merintis bisnis tahun 2001. Sebagai jajanan kampung, saat itu donatnya dijual dengan harga Rp 500 per buah.

Ia memulai dengan peralatan rumah tangga seadanya dan menitipkan donatnya ke sekolah-sekolah. Berkat kegigihannya membesarkan usaha, kini donat Utami sudah dikenal di berbagai wilayah Indonesia. Bahkan, donatnya sudah kesohor hingga ke luar negeri. Tentu bukan lagi jajanan kampung, donat buatan Utami kini masuk kategori premium. Rasanya tak kalah dengan donat kelas mal dengan harga lebih terjangkau, Rp 4000 per buah. (www.peluangusaha.kontan.co.id , 04/09/12).

Berawal dari hobi menjahit serta membuat sendiri pakaian untuk anak-anaknya, Fina, pemilik usaha kerajinan kain berupa pernak-pernik rumah dengan merek De Fafas berhasil mengembangkan usaha kecil-kecilannya menjadi bisnis dengan 11 orang karyawan serta keuntungan hingga 80 juta rupiah per bulan (www.usahakecilmodalkecil.com, 21/06/12).

Selain dari hobi, ada juga yang memulai bisnis dengan memilih suatu bidang bisnis karena diawali desakan kebutuhan. Salah satu pembuat susu instan dari kambing PE adalah kelompok wanita tani  “Anjani” Desa Tlogoguwo Kecamatan Kaligesing Kabupaten Purworejo. Ketua kelompok wanita tani “Anjani”, B Suwarti (41), mengisahkan bahwa memelihara kambing PE sudah bagian dari kehidupan masyarakat Desa Tlogoguwo sejak puluhan tahun silam secara turun temurun dari nenek moyangnya.

Memelihara kambing PE awalnya hanya untuk diambil anaknya sebagai bibit untuk dijual. Disamping itu untuk dimanfaatkan kotorannya sebagai pupuk organik. Dengan semakin tingginya permintaan kambing PE dan pupuk organik, masyarakat setempat yang memlihara kambing PE bisa mencukupi kebutuhan keluarganya.

Seiring perkembangan teknologi yang diimbangi peningkatan kebutuhan hidup masyarakat, munculah ide baru untuk memanfatkan susunya sebagai konsumsi manusia. Dikisahkan, saat itu sekitar tahun 1986 keluarganya didera masalah keuangan rumah tangga. Untuk mencukupi kebutuhan pokok sehari-hari sangat sulit, apalagi membeli susu untuk kedua anaknya. Padahal saat itu kedua anaknya masih balita, yang mebutuhkan susu untuk pertumbuhan.

Berawal hanya untuk mencukupi kebutuhan keluarga sendiri, kemudian berkembang pemikiran apa salahnya bila diproduksi untuk orang lain, sekaligus sebagai lahan bisnis menambah pengasilan keluarga. Akhirnya sekitar tahun 2006, diproduksi dengan skala lebih besar (www.purworejokab.go.id, 05/03/12).

Dan beberapa kisah sukses wirausaha lain berangkat dari latar belakang yang berbeda-beda. Hobi yang ditekuni bisa mengantarkan seseorang meraih kematangan usaha. Desakan kebutuhan sehari-hari bisa menjadi pendorong seseorang memanfaatkan hal-hal yang ada di sekitarnya, kemudian menjadi barang yang bernilai jual.

Membuka usaha sendiri atau menjadi pekerja adalah sebuah pilihan. Ketika telah memilih untuk berwirausaha, cobalah untuk melihat peluang di sekitar kita. Pergunakan sesuatu yang ada di sekitar kita, tidak terbatas pada modal berupa materi. 

Akan terasa sangat sulit jika mencoba menganalisa kebutuhan pasar dengan berbekal teori semata. Memang betul, bisnis itu, ilmu yang dikombinasi dengan seni, tidak saklek, tapi fleksibel. Yang baku hanya prinsipnya, bagi seorang Muslim, wajib menundukkan segalanya kepada hukum Islam.